Hal yang tidak ada habisnya kalau dibahas,
hal yang selalu mengiringi jalan hidup
kita, hal yang membuat hati berbunga-bunga, hal yang selalu up to date dengan ceritanya yang selalu
sama namun berwarna, dan hal yang ga
ada matinye buat gue, CINTA.
Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang
yang kuat dan ketertarikan pribadi (Wikipedia)
Cinta, itu ketika tiada
penyesalan (gue)
To the point aje, gue mau nyinggung dua pandangan berbeda
tentang cinta.
Layaknya sebuah koin yang mempunyai dua sisi,
cinta bisa dipandang berbeda dari sisi satu dan sisi lainnya. Walaupun mereka
tak dapat bertemu tapi mereka juga takkan terpisahkan. Cinta yang menyatukan
mereka #ceileeeehh
Dalam koin cinta ini yang disoroti pertama
adalah “cinlok” atau cinta lokasi. Cinta lokasi
adalah cinta yang muncul ketika berada disuatu tempat tertentu, entah
disekolah, entah dikantor, atau dipasar sekalipun (Dycko Novanda).
Berawal dari sering bareng,
melakukan hal yang sama, atau menjadi partner dalam suatu pekerjaan berujung
timbul rasa yang tidak biasa. Dari saling mencaci menjadi saling mengerti, dari
berbagi tigas menjadi was-was, dari
muncul masalah menjadi bertukar
kisah, dari tawa menjadi cinta, dan dari benci menjadi saling memiliki. Ya, fenomena-fenomena
tersebut terasa berjalan begitu cepat. Cinlok inilah yang sering disebut cinta
sesaat. Hal ini terasa begitu singkat dipperkuat oleh beberapa faktor.
Diantaranya lemahnya pegangan atau pondasi, lebih banyak membayangkan hal-hal
manis dalam hubungan, atau hanya merasa nyaman ketika berada dalam rumah
tersebut, hubungan akan berakhir seiring selesainya kewajiban dalam rumah
tersebut.
Untuk yang satu ini gue bilang, “emang jodoh kudu yang jauh?”
Cinta bukan hanya
seperti senja yang indahnya hanya
sesaat, bukan juga seperti bintang yang Nampak hanya pada kegelapan malam, atau
sekedar banci yang menghilang ketika fajar menyapa. Cinta layaknya ombak yang
setia bercumbu dengan pasir pantai walau jarum jam telah lelah berputar dalam
orbitnya.
sisi lain koin cinta
berwajah berbeda dengan sisi koin yang pertama.
“witing tresno jalaran soko kulino” inilah wajah lain kepingan
koin cinta. Sebuah ungkapan dalam bahasa jawa yang jika diartikan dalam bahasa
Indonesia berarti “ cinta tumbuh karena terbiasa” mungkin sekilas sama dengan cinlok, tetapi dalam hal ini kebiasaan dibarengi dengan keyakinan dalam memilih.
Memilih dalam arti meyakini pilihan untuk memutuskan sesuatu. Cinta tumbuh
karena terbiasa, jadi inilah proses tumbuhnya cinta. Ketika kebersamaan dalam
satu rumah berakhir, bukan berarti akhir dari cinta, karena inilah proses cinta
tumbuh. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya cerita cinta orang jawa yang
berawal dari kulino. Bagaimana mungkin
bisa mencintai seseorang tanpa terbiasa dengannya? Cinta pada pandangan
pertama? Bayangin aja ketika kita membeli buku hanya karena covernya bagus,
setelah tau dalemnya jelek baru deh nyesel. Seperti statement diatas “cinta itu ketika tiada penyesalan”, bukankah akan
lebih indah jika covernya bagus atau jelek sekalipun jika isinya bagus kan
cover juga akan ternomor duakan atau terlupakan. Nah disinilah kulino berperan. Pada intinya di sini
tumbuh cinta dan cinta itu sendiri tumbuh seiring berjalannya waktu.
Nah untuk yang satu ini gue bilang, “ga ada cinta kalo ga kulino” ga
percaya? Coba tanya sama bokap lo, “dulu ketemu nyokap dimane?”
Dalam hal cinta bukan sebuah
game-bling tapi bagaimana menempatkan cinta di singgasana
yang pantas dan bagaimana memelihara tumbuhnya cinta, maka koin itu akan
menunjukkan wajah yang sebenarnya cinta.
#cinta itu biasa, tapi
mencintaimu luar biasa