Selasa, 31 Januari 2012

akulah....

“ARIF SETYAWAN” nama dan do’a yang dianugerahkan kepadaku oleh orangtuaku beberapa saat setelah aku dilahirkan, Cilacap, 6 September 1992. Dalam kenyataan hanya segelintir orang yang memanggilku sesuai nama asliku. “Gandun” panggilan dari ayahku, entah apa artinya. Mulai dari Ayip, Cebong, Acil, Unyil, sampai Pe A, ya seperti itulah teman-temanku menyapaku, hehehe…lucu juga punya banyak sebutan. “Setya A” tertulis jelas di atas nomor punggung yang didominasi nomor 1 di setiap kaos futsal ataupun sepak bolaku. Pun tak ada yang memanggilku demikian. Ini hanya sebercak warna dari warna warni hidupku.
Dengan postur tubuh yang minimalis, aku berusaha meraih apa yang kuinginkan dengan menempuh dunia perkuliahan. “minimalis?” Ya, aku menyebutnya demikian karena aku punya pengalaman pahit tentang tinggi badanku. Aku gagal masuk SMK yang waktu itu aku idam-idamkan hanya karena tinggi badanku kurang 2cm, hehehehehe ini mah hanya pengalaman. But “it’s me” ya kata inilah yang membangkitkan semangatku untuk jadi diri sendiri, bahasa kerennya be myself. Dalam dunia perkuliahan aku berkesempatan mengikuti organisasi Lembaga Pers Mahassiswa. Aku merasa sangat nyaman dalam LPM ini, bahkan lebih nyaman daripada kuliahku. Kuliahku amburadul dan nilaipun sangat minim. Tapi aku yakin dimana aku merasa nyaman disitulah aku mendapat ilmu. Aku lebih suka menimba air di sumur yang berbeda-beda dari pada hanya bergantung pada satu sumur, seperti inilah kuliahku.
Aku merupakan salah satu mahasiswa yang tidak suka membaca dan menulis. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan organisasi yang kuikuti karena terjun ke dunia jurnalistik. Hal ini pula yang menghambat kuliahku, tidak membaca dan menulis berarti tidak belajar. Temanku selalu menyuport supaya aku menghilangkan atau sekedar mengurangi rasa malasku ini, tapi apa daya. Keburukanku bertambah ketika teman-temanku mengatakan aku terlalu boros, tapi kali ini “inilah caraku.” Ya ini bisa memotivasi diriku sendiri untik berjuang nantinya dalam mencari nafkah. “aku aja butuh uang banyak, apalagi nanti kalo aku sudah berkeluarga.” Hehehehe… aneh ya,,jangan ditiru ya kalo ga rasional. Tapi memang aku aneh sih, sering berfikir untuk merasionalkan hal yang tidak masuk akal.
Itulah sedikit gambaran tentang orang yang punya banyak nama samaran ini. Mengenai sifat dan sikap yang lain, orang-orang yang kenal dengankulah yang menilai serta orang-orang dalam tanda kutip, hehehehehehehe.
“Sebenarnya seperti apa sih keluarga anak yang hobby banget futsal ini?”
OK. Aku ceritain dikit tentang orang-orang yang selalu mendo’akanku di belakang sana.
Jl. Wijayakusuma 11 RT06/01 Sumingkir, Jeruklegi, Cilacap. Di sana berdiri dengan kokoh sebuah gubug yang dibangun tahun 1983, itulah rumah kecil yang kami huni. Cukup susah untuk mencapai rumahku karena medannya susah, namanya juga di desa. Anak ke-3 dari lima bersaudara, dua kaka perempuan, satu adik laki-laki dan satu adik perempuan membuatku terjepit dalam urutan, hehehe. Cukup menunjukkan betapa ramainya jika semuanya berkumpul. Sekarang hanya kedua orangtuaku dan kedua adikku yang tinggal dirumah. Aku jarang pulang karena kuliah dan kedua kakaku sudah berkeluarga.
Aku berasal dari keluarga yang sangat sederhana dan rumah yang nan sederhana pula. Ayahku hanya seorang pegawai pabrik swasta, ibuku tidak bekerja hanya kadang mendapat beberapa rupiah dari hasil menjahit, “ya lumayan lah untuk jajan adik” ujar ibuku. Aku sangat bahagia dalam kesederhanaan ini. Bahkan terkadang aku merindukan masa kecilku dulu, aku rindu kebersamaan itu. Sewaktu kecil aku sering membantu ibuku mencari rupiah untuk menambah penghasilan rumahtangga. Waktu subuh tiba, waktunya aku membantu ibuku membungkusaneka gorengan yang akan dijual ke pasar, sebelum sang mentari menampakkan cahayanya, ibuku sudah di pasar. Aku bersiap berangkat sekolah. Sepulang sekolah ibuku sudah tidak di rumah.Dia pernah bercanda,”sebenarnya seperti apa si anakku kalo pake baju sekolah?” Dia sudah berangkat mencari daun pisang untuk dijual ke pasar. Akupun menyempatkan menyusulnya bersama adikku, membantu sebisaku. Walau terkadang aku menyempatkan untuk bermain, hehhehe.. selembar demi selembar daun pisang kami kumpulkan. Sekiranya cukup kamipun pulang. Hari belum terlalu sore, aku dan adikku pergi ke gunung mencari kayu bakar untuk masak sore ini dan esok pagi. Seperti itu hari-hari kami. Aku sangat menikmati kemesraan dalam keluarga waktu itu. Tapi sekarang semua berubah. Alkhamdulillah sekarang keluargaku berkecukupanlah untuk hidup di desa. Tapi ibuku sekarang badannya sakit, ditambah mengurus adikku yang masih kecil. Ayah pergi kerja, ibu ke TK sama adik kecilku, adikku sekolah, aku kuliah, ya sudah jelas keceriaan yang dulu hilang. Akupun sekarang tidak bisa membantu ibuku, aku hanya bisa memberi harapan dengan Alkhamdulillah aku diberi kesempatan untuk kuliah dengan biaya yang ditanggung kakaku. Dan sekali lagi dengan bangga saya ucapkan,” it’s Me”
Pengalaman kehidupan seperti ini mungkin bisa bermanfaat bagi pembaca. Terimakasih

Cilacap, 30 januari 2012